BLACK DAHLIA MURDER

Tren musik kembali. Tahun ini saja beberapa grup keras dari luar negeri mendarat di Jakarta. Terakhir misalnya, Megadeth. Dan sekarang, ada satu band muda yang tengah jadi pembicaraan akan main di sini. The Black Dahlia Murder akan tampil di Hall Basket Senayan, Sabtu, 3 November mendatang.
The Black Dahlia Murder lahir dari ide gitaris, Brian Eschbach. Pada awal tahun 2001, Brian bertemu dengan seorang drumer metal bernama Cory Grady. Berdua, mereka sepakat membentuk band yang memainkan musik death metal. Trevor Strnad ditarik menjadi vokalis dan David Lock, yang didapat dari audisi, digamit jadi bassis.
Oh iya, kenapa nama bandnya The Black Dahlia Murder?
“Sama seperti novel yang berjudul The Black Dahlia Murder. Nama band ini terinspirasi pembunuhan mutilasi aktris Elizabeth “Black Dahlia” Short tahun 1974. Kasus ini tak terungkap hingga sekarang. Jadi menurut kami The Black Dahlia Murder cocok buat nama band metal. Bagaimana?” terang Brian.
Di bawah komando Brian, band ini mulai menulis lagu sendiri. Trevor dipercayakan menulis lirik. Tapi, formasi ini tetap dirasa kurang solid. Brian merasa butuh seorang gitaris untuk tandemnya.
Audisi mencari gitaris baru pun dibuka. Kali ini mereka sukses menjaring seorang gitaris muda, John Kempainen. Permainan John yang enerjik dan kegemarannya pada sound tebal membuatnya terpilih.
“Permainan saya banyak dipengaruhi gitaris-gitaris Skandinavia. Salah satunya Mike Ammott-nya Arch Enemy,” aku John mantap.
Pilihan Brian untuk merekrut John tepat. BersamaJohn, Brian makin mantap menggodok konsep bermusik buat bandnya. Kiblatnya memang musik metal Skandinavia. Tapi, band-band metal seperti Carcass, Darkane, In Flames hingga Metallica, Iron Maiden dan Megadeth tetap memberi influence yang besar.
Dengan formasi ini, The Black Dahlia Murder sebenarnya sudah semakin mantap. Sayang, saat mengerjakan album pertama, Unhallowed, David Lock memutuskan untuk keluar dari formasi. Brian lantas mengajak Bart Williams, bassis band asal Detroit, Today I Wait, bergabung.
Awalnya Bart diajak sebagai basis cabutan dalam mini tur The Black Dahlia Murder. Belakangan, setelah dirasa cocok, Bart ditarik sebagai personil inti.
Baru juga selesai satu masalah, masalah yang tak kalah gawat datang lagi. Corry pergi. Posisinya digantikan Zach Gibson yang juga tak bertahan lama.
Piere Langlois, Kevin Talley dan Tony Laureano sempat dicoba untuk mengisi kekosongan di sektor drum. Semuanya tak berjodoh. Belakangan, malah nama Shannon Lucas, eks drummer All That Remains, masuk sebagai drummer inti.
Berbekal formasi ini, mereka masuk studio untuk mengerjakan album Nocturnal yang baru dirilis sebulan silam. Hasilnya: bagus!
Yang juga menarik dari The Black Dahlia Murder adalah cara menjual albumnya. Selain didistribusikan melalui toko kaset, manajemen dan pihak label sepakat untuk titip-edar ke Walmart, jaringan supermarket yang tersebar seantero Amrik.
Brian dan Trevor punya alasan soal keputusan mereka titip edar di mini market. “Semua orang bisa dapat apa saja di Walmart. Itu kan konsep yang mereka tawarkan, jadi kami cuma melengkapi saja. Sekarang fans bisa mendapatkan CD The Black Dahlia Murder di Walmart. Tidak perlu ke toko kaset!” terang Brian.


0 Tuliskan komentar Kamu Di Sini: